Kalimat yang pertama kali keluar
dari mulutku usai film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tak lain adalah harusnya
aku nonton sama keluarga. Awal cerita sudah dibuka dengan adegan
mengkhawatirkan yang membuatku menutup mata. Kecelakaan Awan, si bungsu yang
menjadi perhatian utama tokoh Ayah membuatku mengingat kejadian yang hampir
serupa. Alur dibuat maju mundur. Teka teki dari cerita akan dibongkar perlahan
dengan penayangan kejadian yang telah lalu.
Tiga karakter anak berhasil
diperankan dengan baik. Angkasa, sosok kakak laki-laki yang dipaksa Ayah
menutupi kesedihan sejak usia 6 tahun harus mengorbankan urusan nikahnya demi
menuruti segala perintah sang Ayah. Ya, melindungi adik-adiknya. Aurora, anak
kedua yang sejak kecil jarang mendapatkan perhatian dari sang Ayah. Ia punya
studio sendiri di rumahnya untuk mengerjakan karya seni. Hingga akhirnya, Aurora
berhasil menggelar pameran tunggalnya. Anak terakhir, Awan. Ia berhasil bekerja
di firma arsitektur idolanya sejak kecil. Namun ternyata ia bisa masuk ke firma
tersebut melalui koneksi sang Ayah. Tahu hal tersebut, Awan marah besar pada
sang Ayah.
Sosok Ibu juga menarik perhatian.
Ia adalah ibu yang tak sempat melihat anak laki-lakinya, kembaran Awan karena
telah meninggal dunia disaat ia tak sadarkan diri 2 hari pasca melahirkan.
Kesedihan yang ia rasakan sangat dalam. Ia sering menangis dibelakang pintu, sering
melamun dan membiarkan Awan kecil menangis karena ia frustasi dengan kembaran
Awan yang lebih dulu meninggalkan mereka semua.
Konflik memuncak saat Angkasa tidak
tahan lagi dengan kelakuan sang Ayah ketika rapat keluarga. Sang Ayah terus-terusan
menyalahkan anak-anaknya. Angkasa muak, ia membongkar rahasia yang selama ini
ditutupi ayah, ibu dan ia dari adik-adiknya. Semua marah saat itu. Semua anak-anak
pergi meninggalkan kedua orangtua mereka. Ayah sibuk menggali kesalahan diri,
sedang Ibu mencoba membawa kembali anak-anaknya ke rumah.
Di sisi lain, dunia Awan lebih
berwarna dengan hadirnya Kale. Kale adalah manager band Arah, band favorit Awan.
Kedekat mereka berdua bermula ketika konser band Arah. Awan membuka diri untuk
dekat dengan Kale. Pergi ngopi sambil curhat, keliling pasar dan naik motor bagi
Awan adalah hal yang berarti dan mampu membuat hatinya gemetar. Namun sayang,
Kale tidak bisa menerima ajakan Awan untuk berpacaran. Menurutnya ia tidak bisa
menjamin kebahagiaan Awan karena pun bahagianya sendiri belum juga terjamin.
Yang pasti di film ini, banyak
kata-kata motivasi yang mampu menggebrak jiwa. Kalau kamu dari awal cerita udah
mau nangis wajar kok. Sayangnya kisah Awan dan Kale masih terasa gantung. But,
its okay. Karena fokus utama film ini bukan romance. Kalau kamu adalah seorang
kakak, kita sama. Bisa kamu lihat karakter Angkasa yang bisa kita tiru baiknya.
Apply dan modifikasi sesuai keadaan kita. Still be yourself. Aku suka
karakternya Aurora tapi aku suka cara pandang hidup menurutnya Kale. Masalah
hati, aku berpihak ke Awan. Berani, that’s the point!

0 komentar:
Posting Komentar