Sabtu, 05 Desember 2020

AKU MALAS, TAPI AKU DIAM

Menginjak akhir 2020, semua penyesalan bergantian berdatangan. Apa yang telah aku lakukan di bulan Januari kemarin, target bulan Februari apa yang belum tercapai hingga kapan terakhir aku meraih impian yang telah ditargetkan ditambah dengan berapa ribu jam aku menghabiskan waktu untuk bermain hp dan bersantai ria. 

BAHKAN UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN ITU SAJA SULIT.

Bayangkan, ada banyak sekali waktu dalam sehari yang aku rasa terbuang sia-sia. Itu baru sehari, kalau dikalikan ahh sudah cukup menjadikan 2020 menjadi tahun paling tidak produktif.Motivasi belajar hilang, pertemanan berkurang, hidup monoton dan mudah menyerah. Semua aku lalui dengan biasa-biasa saja.Baru di akhir tahun ini aku bingung membuat daftar capaian yang kuraih selama satu tahun. 

Sebelum tidur, aku sadar hari ini ada shalat yang mepet di akhir waktu bahkan subuh terlewatkan. 

Ketika scrolling instagram, aku sadar banyak deadline menumpuk yang sebenarnya bisa kumaksimalkan jika dikerjakan sesegera mungkin. 

Ketika buka Youtube, aku sadar bahwa target belajar English yang telah aku targetkan di awal tahun belum tercapai sepenuhnya. 

Sebelum memutuskan untuk bertemu dengan teman-teman, aku sadar waktu yang akan kuhabiskan bersama mereka sedikit banyak sia-sia. Kecuali pada momen dimana ada bahasan yang berbobot. 

Tiap harinya, aku selalu menyadari terhadap apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi di saat bersamaan pula aku menolak untuk melakukan. 

 SAMPAI PADA TITIK PENYESALAN. 

 Hujan seharian di kota Surabaya membuatku terbawa suasana. Enggan keluar kos, tidak mandi bahkan makan terabaikan. Saat itu pula, kemalasanku menumpuk dan aku sadar aku malas tetapi sekali lagi aku diam. 

Setelah angin bertiup kencang, hujan justru mereda. Setelah kurang lebih 7 jam lamanya. Saat itu pula, serasa ada hentakan entah dari mana yang membuatku mengakhiri semua aktivitas sia-sia ku saat itu, menanti chat dari seseorang. 

Aku teringat orang tua dan keluarga besar lainnya. Satu persatu ku coba lihat apa yang sedang mereka kerjakan dan sumber penghasilan mereka. Saat itu pula aku sadar, aku harapan terbesar bagi mereka. Aku satu-satunya yang saat ini mengenyam pendidikan tinggi di kampus. Aku pula yang satu-satunya ditunggu segera kerja, ya karena semua sudah bekerja meskipun diharapkan berpindah ke pekerjaan yang lebih baik. 

Aku diam, lama. Penyesalan ini terlalu besar untuk digambarkan. Bahkan untuk menampungnya, mata dan hatiku tak sanggup. Aku menangis sejadi-jadinya, sepelan-pelannya dan semarah-marahnya. Perasaan ingin kembali ke awal tahun memuncak seketika. Keinginan untuk memperbaiki produktivitas naik derastis. Dorongan untuk memperbaiki diri berada di puncak-puncaknya. 

Aku menidurkan diri, memang sangat-sangat disengaja. Jika tidak, sampai subuh berkumandang tangisku justru semakin keras. Aku hanya malu beberapa orang sekitar kamar kos ku mengetahui penyesalanku tahun ini. 

AKU MENCOBA MEMULAI

Bangunku tentu di siang hari, ketika matahari sedang perjalanan menuju tepat di atas kepala. Aku tidak memegang handphone atau apapun yang berbau media sosial. Kuawali hari dengan mencuci pakaian yang sudah kurendam sejak kemarin. Mandi pun masih malas. 

Perubahan yang jelas ingin aku mulai adalah mengurangi bermain hp, apapun itu termasuk menunggu pesan dari seseorang yang sebenarnya bisa kutemui hampir setiap hari. Oiya, belum aku ceritakan ya tentang orang ini. Aku buat dipostingan selanjutnya mungkin, untuk menutup tahun 2020. 

Ada sisa waktu yang tidak sampai 1 bulan di 2020 ini. Setidaknya ada satu pencapaian besar yang harus kuraih. Entah itu yang diketahui banyak orang atau hanya aku sendiri. Sekedar menghapus rasa untuk seseorang pun juga pencapaian besar untukku. 

Aku membuat perubahan pola hidup. Mencoba menghindari makanan yang tidak sehat, mengurangi konsumsi saos dan tentu, snack. Mencoba menghindari makan 3x sehari dengan lauk yang sama, ayam. 

Aku mencoba merancang mimpi kembali. Memulai memperbaiki kuliahku yang let it flow selama hampir 5 semester ini. Mencoba berexplorasi lagi untuk mata kuliah yang sedang dipelajari. Terakhir, mencoba memulai lebih dulu untuk menggerakkan kelompok dimana ada orang yang memiliki sifat yang aku benci. Sifatnya, bukan orangnya.


 Lantas, aku juga ingin menambah kegiatan selain kegiatanku hari ini di salah satu kumpulan orang yang resmi diakui kampus. Saat itu pula, aku ingin menambah relasi sebanyak-banyaknya. Bahkan dengan orang luar pulau Jawa pun dengan orang luar Nusantara. 

Beberapa hal, ah tidak. Banyak hal ini aku coba perbaiki. Impian untuk berkarir sebelum kuliah harus kembali aku susun. Aku harus segera memulai, ada orang yang menanti kabar kesuksesanku di kampung halaman. Aku juga harus memperbaiki kualitas diri baik itu di hadapan orang lain maupun di hadapanNya.  

Aku juga hendak mencoba tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya tidak kupedulikan. Aku juga akan berhenti membandingkan fisik dan rezeki terhadap orang lain. 

Aku juga, aku juga akan, aku juga akan berubah, aku juga akan berubah untuk segala hal yang di 2020 masih buruk. 

 Aku juga mencoba mencari tahu, apakah rasa untuknya hanya sebatas rasa kagum atau memang terselip cinta di dalamnya. Sampai saat itu tiba, aku berharap tidak ada selain aku yang tahu.

 Aku malas, tapi aku diam. Itu aku di 11 bulan 2020, tidak untuk di 1 bulan tersisa dan 2021 hingga tahun-tahun berikutnya. Aku malas, maka aku gerak. Aku malas, maka aku berdoa. Aku malas, maka aku mencari kegiatan. Aku malas, maka aku jatuh cinta. Aku malas, maka aku harus kerja. 

Aku berharap kalian pun sama. Bukan sama malasnya, bukan sama mendapat penyelesannya. Tetapi sama-sama menyadari perlu untuk segera merubah nasib. Semangat, aku, kamu dan kita sama-sama sedang diuji pandemi. Aku, kamu dan kita pula sama-sama kuat dan berhasil sudah sejauh ini. Aku, kamu semoga juga menjadi kita.

 Sampai bertemu di akhir 2020.

0 komentar:

Posting Komentar