Rabu, 09 Juni 2021

Mencoba Meraba Makna Kehidupan

Gemericik air ketika subuh dari langit yang mendung membangunkan orang beriman atau pun tidak dari tidurnya. Satu persatu rumah mulai mematikan lampu, tanda matahari sudah menampakkan diri. Kehidupan dimulai bagi beberapa orang yang semalem menaruh raga di kasur. Kehidupan juga terus berjalan bagi bapak-bapak yang berjuang memanen sayur di lereng bukit untuk biaya sekolah anak. Supaya lulus jadi sarjana, katanya. 


 

Masing-masing manusia memiliki ritme perjalanan hidup yang berbeda-beda, bukan waktu sekali lagi tapi ritme. Ada yang berjalan santai sambil menghitung semut yang menyeberang, ada yang berjalan wajar sambil menyapa tetangga yang acap kali menjadi bumerang atau tak sedikit pula yang menyewa kaki kuda untuk terus dapat berjalan jauh tanpa henti yang lama. 

Masing masing dari kita punya cara sendiri untuk menikmati hidup, tapi tak semua sampai pada titik "hidup yang bermakna." Awalnya aku juga tak merasa mencari makna hidup itu sangat penting. Asal selama hidup satu persatu tangga dilalui tanpa terjatuh atau setidaknya kalau jatuh naik lagi. Tapi salah, di setiap tangga memberikan suntikan pembelajaran. Di situlah makna-makna hidup memberikan energi untuk kembali hidup di tangga berikutnya. Atau setidaknya jika tidak terpakai, makna ditangga itu menjadi teman tak ternilai. 

Aku tertriger untuk berbagi hal ini setelah membaca bagian I dari buku Do It Anyway karya Kent M. Keith. Buku ini berisi panduan untuk menemukan makna kehidupan dan kebahagian sejati. Apa yang diunggulkan? Perintah 10 paradoks. Biar aku singgung sedikit. 

1. Manusia sering bersikap tidak logis, tidak masuk akal, dan mementingkan diri sendiri. Bagaimanapun sayangi mereka.

2. Bila Anda melakukan kebaikan, orang akan menuduh Anda memiliki motif tersembunyi yang mementingkan diri sendiri. Bagaimanapun lakukan kebaikan itu. 

3. Jika Anda sukses, Anda akan mengundang sahabat-sahabat palsu dan musuh-musuh yang sebenarnya. Bagaimanapun raihlah sukses itu. 

4. Kebaikan yang Anda lakukan hari ini akan dilupakan esok hari. Bagaimanapun lakukan kebaikan itu. 

5. Kejujuran dan keterbukaan membuat Anda rentan. Bagaimanapun jujur dan terbukalah. 

6. Pria dan wanita paling hebat dengan gagasan yang paling besar dapat dijatuhkan oleh pria dan wanita paling kecil dengan pikiran yang paling kecil. Bagaimanapun berpikir besarlah. 

7. Orang bersimpati pada pihak yang lemah, tetapi mengikuti pihak yang kuat. Bagaimanapun berjuanglah bagi pihak yang lemah. 

8. Apa yang Anda bangun selama bertahun-tahun dapat hancur dalam semalam. Bagaimanpun bangunlah. 

9. Sesunggugnya manusia membutuhkan pertolongan tetapi mereka mungkin akan menyerang Anda jika Anda menolong mereka. Bagaimanapun tolonglah mereka. 

10. Berikan yang terbaik pada dunia dan Anda akan kecewa. Bagaimanapun berikan yang terbaik pada dunia. 

 Ya, 10 perintah paradoks di atas intinya hanya menyuruh kita "memaksakan diri" untuk berperilaku semestinya tanpa memikirkan sebab bahkan akibat. Perintah paradoks ke-1 mendorong kita untuk tetap menyayangi sesama, dan yang kesembilan menyatakan bahwa kita harus tetap menolong orang lain. Begitulah tulis Kent. 

Jadi apa intinya? Kebanyakan kita hidup di dunia ini sampai pada titik jenuhnya masing-masing, kan? Apa kamu belum? Ya tunggu saja. Tapi di balik itu semua, satu hal yang harus diyakini adalah ada makna dalam setiap kehidupan yang tercipta. Kita manusia, kita aktor dari pergerakan dunia bukan korban dari kekejaman dunia. Sifat dunia seperti apa ada di tangan kita. 

Kent, dalam bukunya mendefinisikan makna kehidupan sebagai hal-hal yang signifikan dan berarti bagi Anda pribadi. Ia menambahkan, arti dari kebahagiaan yang dalam dalam untuk mendukung argumen tentang makna kehidupan. Kebahagiaan yang dalam adalah kebahagiaan yang menyentuh roh Anda dan berhubungan dengan jiwa Anda. Sejumlah orang mungkin menyebutnya aktualisasi diri. Yang lain menyebutnya sebagai pemenuhin diri. Namun ada juga yang menyebutnya memfokuskan diri. Para pemeluk agama mungkin menyebutnya kehendak Tuhan dalam hidup mereka. Kira-kira begitulah definisi makna hidup menurut Kent. 

Pertanyaannya adalah sudah mendapatkan makna hidupkan dalam perjalanan sejauh ini? Selalu ada mungkin bagi mereka yang mau meraba dan tanpa ragu tetap berjalan. Lakukan apa yang seharunya. Bukan apa yang diinginkan orang lain. Jangan menempatkan diri sebagai korban kekejaman dunia, kitalah aktor dari dunia ini. Dunia mau dijadikan seperti apa, kita aktornya (sekali lagi). 

Jika banyak hal-hal di luar yang tidak bisa kita atur, tidak masalah. Kita memang tidak bisa mengatur orang yang bukan diri sendiri dan kehidupan eksternal lainnya. Tetapi kita bisa mengatur internal kita. Sayangi diri Anda dan orang lain, karena kasih sayang adalah sumber makna kehidupan yang penting. Bukankah Anda sangat bahagia ketika cinta dan kasih sayang hadir memanjakan kehidupan? Meskipun beberapa membutuhkan perjuangan yang amat berat, disitulah hasil maksimal dan puas Anda dapatkan. Memang kadang-kadang lingkungan tempat kita hiduplah yang membuat masa sekarang terasa sulit. 

Satu persatu orang di sekitar kita akan beradaptasi. Menilai seperti apa Anda. Terima jika itu baik dan benar, abaikan jika itu hanya sebuah nyinyiran tanpa saran yang membawa Anda menuju lebih baik. Hindari untuk melakukan hal yang juga Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian oleh orang lain. Kali ini, saya hendak berbicara dengan melibatkan kata:kita. Kita tidak dapat memer
intah orang untuk melakukan yang terbaik. Kita hanya bisa menginspirasi mereka untuk melakukan yang terbaik. 


Setidaknya, tindakan Anda saat ini tidak mengarah ke hal-hal spektakuler di masa depan. Tapi tindakan Anda saat ini berpengaruh dan membuat Anda merasa (sedih, bahagia atau semacamnya) untuk sekarang. Jadi, kalau aku simpulkan dari buku bagian pertama Kent M Keith: untuk mencari makna kehidupan Anda harus fokus di masa sekarang dan lakukan apa yang Anda yakini itu benar. Cukup lakukan, tanpa memikirkan keuntungan apa yang Anda dapatkan. 

Terakhir, selamat memulai meraba makna kehidupan. Anda bersama orang yang tepat atau tidak saat ini, Anda harus menemukannya sebelum berpindah dunia. 






Sabtu, 05 Desember 2020

AKU MALAS, TAPI AKU DIAM

Menginjak akhir 2020, semua penyesalan bergantian berdatangan. Apa yang telah aku lakukan di bulan Januari kemarin, target bulan Februari apa yang belum tercapai hingga kapan terakhir aku meraih impian yang telah ditargetkan ditambah dengan berapa ribu jam aku menghabiskan waktu untuk bermain hp dan bersantai ria. 

BAHKAN UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN ITU SAJA SULIT.

Bayangkan, ada banyak sekali waktu dalam sehari yang aku rasa terbuang sia-sia. Itu baru sehari, kalau dikalikan ahh sudah cukup menjadikan 2020 menjadi tahun paling tidak produktif.Motivasi belajar hilang, pertemanan berkurang, hidup monoton dan mudah menyerah. Semua aku lalui dengan biasa-biasa saja.Baru di akhir tahun ini aku bingung membuat daftar capaian yang kuraih selama satu tahun. 

Sebelum tidur, aku sadar hari ini ada shalat yang mepet di akhir waktu bahkan subuh terlewatkan. 

Ketika scrolling instagram, aku sadar banyak deadline menumpuk yang sebenarnya bisa kumaksimalkan jika dikerjakan sesegera mungkin. 

Ketika buka Youtube, aku sadar bahwa target belajar English yang telah aku targetkan di awal tahun belum tercapai sepenuhnya. 

Sebelum memutuskan untuk bertemu dengan teman-teman, aku sadar waktu yang akan kuhabiskan bersama mereka sedikit banyak sia-sia. Kecuali pada momen dimana ada bahasan yang berbobot. 

Tiap harinya, aku selalu menyadari terhadap apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi di saat bersamaan pula aku menolak untuk melakukan. 

 SAMPAI PADA TITIK PENYESALAN. 

 Hujan seharian di kota Surabaya membuatku terbawa suasana. Enggan keluar kos, tidak mandi bahkan makan terabaikan. Saat itu pula, kemalasanku menumpuk dan aku sadar aku malas tetapi sekali lagi aku diam. 

Setelah angin bertiup kencang, hujan justru mereda. Setelah kurang lebih 7 jam lamanya. Saat itu pula, serasa ada hentakan entah dari mana yang membuatku mengakhiri semua aktivitas sia-sia ku saat itu, menanti chat dari seseorang. 

Aku teringat orang tua dan keluarga besar lainnya. Satu persatu ku coba lihat apa yang sedang mereka kerjakan dan sumber penghasilan mereka. Saat itu pula aku sadar, aku harapan terbesar bagi mereka. Aku satu-satunya yang saat ini mengenyam pendidikan tinggi di kampus. Aku pula yang satu-satunya ditunggu segera kerja, ya karena semua sudah bekerja meskipun diharapkan berpindah ke pekerjaan yang lebih baik. 

Aku diam, lama. Penyesalan ini terlalu besar untuk digambarkan. Bahkan untuk menampungnya, mata dan hatiku tak sanggup. Aku menangis sejadi-jadinya, sepelan-pelannya dan semarah-marahnya. Perasaan ingin kembali ke awal tahun memuncak seketika. Keinginan untuk memperbaiki produktivitas naik derastis. Dorongan untuk memperbaiki diri berada di puncak-puncaknya. 

Aku menidurkan diri, memang sangat-sangat disengaja. Jika tidak, sampai subuh berkumandang tangisku justru semakin keras. Aku hanya malu beberapa orang sekitar kamar kos ku mengetahui penyesalanku tahun ini. 

AKU MENCOBA MEMULAI

Bangunku tentu di siang hari, ketika matahari sedang perjalanan menuju tepat di atas kepala. Aku tidak memegang handphone atau apapun yang berbau media sosial. Kuawali hari dengan mencuci pakaian yang sudah kurendam sejak kemarin. Mandi pun masih malas. 

Perubahan yang jelas ingin aku mulai adalah mengurangi bermain hp, apapun itu termasuk menunggu pesan dari seseorang yang sebenarnya bisa kutemui hampir setiap hari. Oiya, belum aku ceritakan ya tentang orang ini. Aku buat dipostingan selanjutnya mungkin, untuk menutup tahun 2020. 

Ada sisa waktu yang tidak sampai 1 bulan di 2020 ini. Setidaknya ada satu pencapaian besar yang harus kuraih. Entah itu yang diketahui banyak orang atau hanya aku sendiri. Sekedar menghapus rasa untuk seseorang pun juga pencapaian besar untukku. 

Aku membuat perubahan pola hidup. Mencoba menghindari makanan yang tidak sehat, mengurangi konsumsi saos dan tentu, snack. Mencoba menghindari makan 3x sehari dengan lauk yang sama, ayam. 

Aku mencoba merancang mimpi kembali. Memulai memperbaiki kuliahku yang let it flow selama hampir 5 semester ini. Mencoba berexplorasi lagi untuk mata kuliah yang sedang dipelajari. Terakhir, mencoba memulai lebih dulu untuk menggerakkan kelompok dimana ada orang yang memiliki sifat yang aku benci. Sifatnya, bukan orangnya.


 Lantas, aku juga ingin menambah kegiatan selain kegiatanku hari ini di salah satu kumpulan orang yang resmi diakui kampus. Saat itu pula, aku ingin menambah relasi sebanyak-banyaknya. Bahkan dengan orang luar pulau Jawa pun dengan orang luar Nusantara. 

Beberapa hal, ah tidak. Banyak hal ini aku coba perbaiki. Impian untuk berkarir sebelum kuliah harus kembali aku susun. Aku harus segera memulai, ada orang yang menanti kabar kesuksesanku di kampung halaman. Aku juga harus memperbaiki kualitas diri baik itu di hadapan orang lain maupun di hadapanNya.  

Aku juga hendak mencoba tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya tidak kupedulikan. Aku juga akan berhenti membandingkan fisik dan rezeki terhadap orang lain. 

Aku juga, aku juga akan, aku juga akan berubah, aku juga akan berubah untuk segala hal yang di 2020 masih buruk. 

 Aku juga mencoba mencari tahu, apakah rasa untuknya hanya sebatas rasa kagum atau memang terselip cinta di dalamnya. Sampai saat itu tiba, aku berharap tidak ada selain aku yang tahu.

 Aku malas, tapi aku diam. Itu aku di 11 bulan 2020, tidak untuk di 1 bulan tersisa dan 2021 hingga tahun-tahun berikutnya. Aku malas, maka aku gerak. Aku malas, maka aku berdoa. Aku malas, maka aku mencari kegiatan. Aku malas, maka aku jatuh cinta. Aku malas, maka aku harus kerja. 

Aku berharap kalian pun sama. Bukan sama malasnya, bukan sama mendapat penyelesannya. Tetapi sama-sama menyadari perlu untuk segera merubah nasib. Semangat, aku, kamu dan kita sama-sama sedang diuji pandemi. Aku, kamu dan kita pula sama-sama kuat dan berhasil sudah sejauh ini. Aku, kamu semoga juga menjadi kita.

 Sampai bertemu di akhir 2020.

Selasa, 21 Januari 2020

Menjadi Kakak ala Mas Angkasa


Kalimat yang pertama kali keluar dari mulutku usai film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tak lain adalah harusnya aku nonton sama keluarga. Awal cerita sudah dibuka dengan adegan mengkhawatirkan yang membuatku menutup mata. Kecelakaan Awan, si bungsu yang menjadi perhatian utama tokoh Ayah membuatku mengingat kejadian yang hampir serupa. Alur dibuat maju mundur. Teka teki dari cerita akan dibongkar perlahan dengan penayangan kejadian yang telah lalu.
Tiga karakter anak berhasil diperankan dengan baik. Angkasa, sosok kakak laki-laki yang dipaksa Ayah menutupi kesedihan sejak usia 6 tahun harus mengorbankan urusan nikahnya demi menuruti segala perintah sang Ayah. Ya, melindungi adik-adiknya. Aurora, anak kedua yang sejak kecil jarang mendapatkan perhatian dari sang Ayah. Ia punya studio sendiri di rumahnya untuk mengerjakan karya seni. Hingga akhirnya, Aurora berhasil menggelar pameran tunggalnya. Anak terakhir, Awan. Ia berhasil bekerja di firma arsitektur idolanya sejak kecil. Namun ternyata ia bisa masuk ke firma tersebut melalui koneksi sang Ayah. Tahu hal tersebut, Awan marah besar pada sang Ayah.
Sosok Ibu juga menarik perhatian. Ia adalah ibu yang tak sempat melihat anak laki-lakinya, kembaran Awan karena telah meninggal dunia disaat ia tak sadarkan diri 2 hari pasca melahirkan. Kesedihan yang ia rasakan sangat dalam. Ia sering menangis dibelakang pintu, sering melamun dan membiarkan Awan kecil menangis karena ia frustasi dengan kembaran Awan yang lebih dulu meninggalkan mereka semua.
Konflik memuncak saat Angkasa tidak tahan lagi dengan kelakuan sang Ayah ketika rapat keluarga. Sang Ayah terus-terusan menyalahkan anak-anaknya. Angkasa muak, ia membongkar rahasia yang selama ini ditutupi ayah, ibu dan ia dari adik-adiknya. Semua marah saat itu. Semua anak-anak pergi meninggalkan kedua orangtua mereka. Ayah sibuk menggali kesalahan diri, sedang Ibu mencoba membawa kembali anak-anaknya ke rumah.
Di sisi lain, dunia Awan lebih berwarna dengan hadirnya Kale. Kale adalah manager band Arah, band favorit Awan. Kedekat mereka berdua bermula ketika konser band Arah. Awan membuka diri untuk dekat dengan Kale. Pergi ngopi sambil curhat, keliling pasar dan naik motor bagi Awan adalah hal yang berarti dan mampu membuat hatinya gemetar. Namun sayang, Kale tidak bisa menerima ajakan Awan untuk berpacaran. Menurutnya ia tidak bisa menjamin kebahagiaan Awan karena pun bahagianya sendiri belum juga terjamin.
Yang pasti di film ini, banyak kata-kata motivasi yang mampu menggebrak jiwa. Kalau kamu dari awal cerita udah mau nangis wajar kok. Sayangnya kisah Awan dan Kale masih terasa gantung. But, its okay. Karena fokus utama film ini bukan romance. Kalau kamu adalah seorang kakak, kita sama. Bisa kamu lihat karakter Angkasa yang bisa kita tiru baiknya. Apply dan modifikasi sesuai keadaan kita. Still be yourself. Aku suka karakternya Aurora tapi aku suka cara pandang hidup menurutnya Kale. Masalah hati, aku berpihak ke Awan. Berani, that’s the point!

Selasa, 07 Januari 2020

Tertawa Lepas Bareng Yuyun di “From Flores with Love”




              Bicara novel yang bergenre romantis dengan suguhan cerita keindahan alam Indonesia bisa kamu temukan di karya Esi Lahur. Novel berjudul From Flores with Love karyanya mengajak kamu untuk menikmati keindahan wisata Indonesia bagian timur, tepatnya di Flores.

              Novel ini berisi kisah keenam mahasiswa antropologi di kampus ibukota yang memutuskan menghabiskan liburan semester dengan berkelana ke Flores. Keenam mahasiswa tersebut adalah Arthur, Clarrisa, Yuyun, Aster, Genta, dan Hendrik. Di awal cerita, sempat dibuat bingung dengan jenis kelamin Yuyun dan Genta. Pikirku Yuyun adalah seorang perempuan dan Genta adalah laki-laki. Tapi ini justru sebaliknya. Yuyun berperan sebagai laki-laki usil yang perbendaharaan materi nglucunya tidak pernah habis. Sedangkan Genta jadi perempuan yang galak dan suka mendengarkan lagu. Yuyun dan Genta seperti orang berantem jika sudah saling bicara. Keduanya dikisahkan selalu sewot-sewotan. Dan, Yuyun menjadi tokoh idola saya dalam cerita ini.

Beralih ke Aster, perempuan dengan kekhawatiran berlebihan yang selalu menggenggam smartphone-nya untuk menghubungi orangtua. Aster sulit mendapatkan izin berwisata tanpa orangtua.m Namun berbekal tekad dan keinginan untuk mencoba, Aster membujuk kedua orangtuanya. Alhasil, Aster diizinkan berangkat dengan syarat memberikan kabar setiap hendak dan selesai melakukan aktivitasnya. Dalam kisah, pembaca akan disuguhkan bagaimana kepolosan dan lucunya Aster dalam menanggapi hal-hal kecil dan mendadak selama perjalanan. Sedangkan Hendrik adalah laki-laki yang memiliki tampang pas-pasan. Ia ikut berlibur untuk melepas penat setelah cintanya ditolak oleh dua perempuan. Ia lebih pendiam daripada yang lain, namun selalu terlihat ceria. Siapa sangka, ia justru sering menjadi Spiderman gadungan dalam acara comic con. Hal ini dia lakukan karena dengan memakai kostum Spiderman banyak orang yang ingin berfoto dan mengerubunginya. Ya, tentunya karena mukanya tertutup topeng Spiderman.

Sekarang, dua sejoli yang memberi bumbu romance dalam cerita yaitu Arthur dan Clarrisa. Arthur adalah laki-laki pintar dan tampan yang menjadi idola di kampus. Sedangkan Clarrisa adalah perempuan mandiri yang peduli dan senang berpetualang. Arthur berniat melakukan PDKT habis-habisan selama perjalanan. Clarrisa yang tidak menyadari niat itu hanya merasa ge-er saat Arthur sering membantu dan mendapatinya saling tatap, namun hal itu ditepisnya. Takut jika Arthur ternyata juga seperti itu kepada perempuan yang lain. Ditengah hangat-hangatnya PDKT Arthur, muncul Krisna. Teman laki-laki Clarrisa yang membantu akomodasi perjalanan mereka. Krisna adalah teman SMA Clarrisa yang telah muncul di buku From Sumatera With Love. Cintanya ditolak Clarrisa karena ketika SMA ia belum mau pacaran. Arthur dan Krisna saling menyadari bahwa kini mereka adalah saingan untuk mendapatkan Clarrisa. Clarrisa pun juga menyadari tingkahlaku keduanya. Clarrisa merasa bingung harus memilih siapa jika keduanya menyatakan perasaan kepada Clarrisa.

Selain penokohannya yang bagus dan percakapan yang berhasil membuat tertawa, ada banyak keindahan alam Flores yang dimunculkan pada cerita ini. Diantaranya tentang dinginnya Danau Kelimutu saat matahari terbit, Desa Bena yang khas dengan tenun dan kuburan megalithikumnya, Taman Nasional Komodo yang mereka kurang beruntung karena sedang musim kawin sehingga hanya sedikit Komodo yang mau keluar dan masih ada lagi wisata Flores yang diceritakan. Sengaja tidak diceritakan di sini karena saya berharap kamu kepo terus terpancing untuk membaca. Yang jelas, perjalanan dan penginapan yang digunakan mereka dijelaskan disini jadi lumayan buat gambaran kalau mau ke Flores. Selamat membaca.

Senin, 23 Desember 2019

SAAT USIA MU 19 TAHUN


 USIA 19 TAHUN ITU BERHARGA

Foto di usia 19 tahun

        Usia 19 tahun menjadi usia yang krusial sebelum menapaki jalan yang akan membawa kita ke dunia karir. Di usia ini akan banyak lika-liku, kekhawatiran serta gejolak emosi yang terus menghantui perjalanan hidup kita. Umumnya, di usia 19 tahun ini kesibukan kita adalah kuliah. Dengan jurusan yang sebenarnya kita kaget setelah menjadi bagian darinya serta dengan teman-teman yang kita kadang jenuh dengan tindak-tanduknya. Belum lagi tentang keadaan rumah dan orangtua yang mengharuskan kita memutar otak untuk tidak merepotkan selalu. Semua serasa menantang di usia 19, bahkan untuk menikmati sesuatu yang menggembirakan hatipun kita harus rela mewujudkannya mati-matian. 
Pikiran semakin dituntut untuk memikirkan hal yang lebih kompleks. Tubuh didoktrin untuk tetap sehat dan jiwa diharuskan untuk tetap waras.
Jangan gegabah, nikmati setiap proses dan jangan menyerah. Ini tentang histori hidupmu yang akan membawamu melangkah lebih berani saat usia 20 tahun menjemputmu. Lalu, apa yang harus kamu siapkan di usia 19 tahun ini? Bukan yang sekedar disiapkan tapi juga yang benar-benar harus disiapkan.
  •       Jalin Relasi

Masa kuliahmu di usia 19 tahun belum disibukkan dengan skripsi dan magang. Ini saatnya kamu bersosialisasi mencari teman. Berteman, bersahabat dan bergerombol tidak masalah asalkan pikiran dan hatimu selalu terbuka. Terimalah siapa saja yang mengajakmu berteman dan juga ajaklah siapa saja yang kau temui untuk berteman. Masalah nanti cocok atau tidak urusan belakangan. Suatu saat, pertemanan akan mengantarmu pada relasi yang memang kau butuhkan. Relasi yang suatu saat akan membantumu menggapai impian atau hanya sekedar mendapat bantuan. Tetap jaga komunikasi, kalau perlu jadwalkan waktu komunikasi untuk tetap say hai ke teman-teman yang jarang ditemui. Tidak masalah jika kamu harus selalu mengawali. Hal itu lebih baik untuk dilakukan daripada memutus komunikasi yang sudah terjalin. Percaya saja, jika mereka mengabaikan sapaanmu berarti mereka sedang sibuk. Coba di lain waktu, jangan berhenti jika kamu ingin mendapat relasi. Perjuangan mengupayakan komunikasi yang tetap terjalin akan berbuah relasi yang kamu sendiri akan kaget dengan manfaatnya yang begitu besar. Selamat berjuang, pejuang komunikasi.
  • Bidik Target di Segala Bidang

Ini poin penting sebelum melangkah ke usia 20 tahun. Bidik sasaranmu. Tekuni hobby ataupun keahlianmu. Sehingga nanti ketika berganti usia, setidaknya ada value added dalam dirimu. Jangan lupa, tentukan target di setiap bidang hidupmu. Porsikan sewajarnya, jangan terlalu memaksa diri untuk mendapatkan apa yang mustahil untuk kau dapat. Ketika semua sesuai porsimu, semua akan berjalan lancar dan tepat sesuai bidikanmu. Barengi dengan usaha yang seimbang, rutinkan semua aktivitas yang menunjang targetmu. Jika di tengah jalan kamu bosan, cobalah merenung, seberapa besar resiko jika kamu tak melanjutkan jalan menuju bidikanmu. Temukan cara bagaimana dirimu dapat mempertahankan rutinitas yang menunjang targetmu. Kendalikan dirimu untuk melawan rasa malas, takut dan jenuh. Kamu bisa!
  • Jangan Ribut Soal Cinta

Menginjak dewasa, cinta selalu menjadi hal yang mengganggu. Apalagi bagi mereka yang setiap hari berada dalam lingkaran orang yang memang sudah dibidik. Tidak akan focus dalam melakukan pekerjaan dan selalu terbayang. Ciutan galau pasti akan terlontar. Perilaku-perilaku lucu pasti akan menjadi kenangan. Semuanya akan merasa bukan menjadi diri sendiri. Yang pemarah akan luluh ketika berhadapan dengan urusan cinta. Begitu pula yang egois akan rela mengalah demi kepentingan bidikannya. Tapi, di usia ini jangan menjalin cinta dulu. Percayalah, tidak ada yang baik-baik saja jika kamu menjalin cinta di usia 19 ini. Waktumu akan terbuang banyak untuk menuruti gaya berpacaran di zaman sekarang, belum lagi tuntutan dari pasanganmu yang membuatmu harus mengorbankan sebagain kecil hartamu. Yang kamu butuhkan bukan seorang pacar, yang kamu butuhkan adalah relasi dan teman yang dapat meningkatkan kreativitasmu, menggali kemampuan dan meraih targetmu. Simpan dahulu bidikanmu dalam doa usai shalatmu. Temui dengan serius ketika kamu sudah siap dengan segala resiko dan tanggungan untuk hidup bersama. Ini memang paling susah, tapi kamu pasti bisa. Ayo coba. Aku sudah berhasil melakukannya. 

Tiga poin di atas yang memang menurutku krusial di usiamu yang ke 19 tahun ini. Selebihnya, semua tergantung dirimu. Semoga kamu berhasil di usia mu yang ke 19 ini. Nah, balik ke poin 1 ya. Ayok ngopi! Kita diskusi seperti apa hebatnya dunia ini memaksa kita untuk terus bergerak melampaui batas. Aku tunggu ajakanmu kawan.

Minggu, 25 Agustus 2019

BERKARIR SEBAGAI MAHASISWA



Mahasiswa, dotspace - Tahun ajaran baru adalah hal yang paling dinantikan oleh para senior tertua tiap jenjang pendidikan. Lulus menjadi suatu kebanggan dengan ijazah baru dalam map abu-abu, biru atau map warna lainnya. Kabar baik seperti ini harus dibagikan. Status facebook berganti dari bersekolah di- menjadi berkuliah di- pun begitu dengan bio instagram yang tertulis nama angkatan dibarengi tahun kelulusan. Tidak munafik jika ada unsur pamer dalam pengubahan status dan bio media sosial tersebut. 

Hal paling banyak dibicarakan adalah ketika siswa-siswi yang masih terlihat lucu menggunakan seragam putih abu-abu berubah status menjadi maha-nya para siswa. Hastag menjadi andalan untuk men-stalk mahasiswa-mahasiswi baru tidak terkecuali akun-akun yang mengeksplore kecantikan atau ketampanan mereka. Ucapan selamat membanjir, obrolan online yang biasanya sepi kini mendadak rame dan tak lupa pertanyaan-pertanyaan tetangga yang selalu sama tiap keluar rumah. 
Tidak berlebihan jika suasana rumah dan lingkungan sekitarnya menjadi heboh tatkala anak dari pemilik rumah sekarang sudah menjadi mahasiswa. Mereka yang mau, ikhlas dan berani mengorbankan kedaulatan serta kemerdekaan dirinya untuk kampus yang akan menjadikannya seorang sarjana-ingat, seorang sarjana bukan seorang yang hebat, adalah mereka yang siap kehilangan waktu bermain, tamasya dan kumpul keluarga. Kini di tahun ajaran baru mereka telah memilih satu dari sekian banyak pilihan hidup untuk berkarir menjadi mahasiswa. Dengan segudang impian mereka berangkat, melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman untuk membuktikan bahwa pilihannya tepat. Ditambah nasihat, doa dan uang saku mereka mantap berkarir sebagai mahasiswa.
Keputusan untuk berkarir menjadi mahasiswa tentu membuka peluang untuk menempa diri di awal kekejaman dan tak pedulinya dunia kepada kita. Ya, saya pikir tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa menjadi mahasiswa adalah pembelajaran awal untuk mengetahui kejamnya dunia. Ada beberapa hal yang bisa saya bagi mengenai dunia perkuliahan, awal pembelajaran hidup yang serius ini. Tetapi kembali lagi bahwa ini adalah hal yang saya dapat dari kehidupan kuliah saya yang pada intinya terdapat banyak perbedaan dengan pembaca sekalian. Namun, saya yakin pasti ada kesamaan di dalamnya. Besar kecilnya kesamaan itu semoga kelak kita bisa bertemu untuk membagi perbedaan yang ada atau sekedar saling berkenalan di warkop. 
1. Tahun pertama masuk kuliah adalah tahun terberat


Saya pikir jika berbicara kalimat itu saja dengan mahasiswa lama, saya akan mendapat banyak protes. Namun, jika penjabaran diberikan setelahnya maka protes tersebut saya pikir akan berkurang. Tahun terberat yang mahasiswa lama sering bicarakan diartikan sebagai banyaknya mata kuliah yang susah dengan jumlah sks yang banyak dan tugas akhir yang oleh dosen pembimbingnya dibuat terbelit-belit serta tidak lupa mata kuliah semester awal yang harus diulang. Tapi karena saya mengatakan bahwa tahun pertama adalah tahun terberat maka bukan itu alasannya.

Dari segi mental, kita harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa kita akan berurusan dengan teman berbagai daerah lengkap dengan kekhasan, karateristik dan tingkat ego yang berbeda-beda. Namun, bagi kita yang merantau maka saya pikir jauh dari orangtua adalah ujian mental yang paling susah. Dari segi financial pula kita harus membeli seabrek barang yang wajib ada di kos, peralatan ospek dan tak lupa kebutuhan sekunder-tersier lainnya. Kemudian adalah adaptasi, yang sengaja tidak saya masukkan kedalam aspek segi mental karena adaptasi adalah hal paling riskan di tahun pertama. Salah pilih teman, rusak beberapa mimpi. Akan kentara sekali bagaimana orang-orang akan bergerombol. Entah itu berdasarkan kelas, kepribadian ataupun kasta sosialnya. Ada  beberapa pesan saya bagi kalian yang baru memulai tahun pertama. 
1. Jadilah dirimu sendiri, sejak dari awal perkenalan jadilah kamu yang kamu. Jangan 
    memakai topeng hanya untuk menyenangkan lawan bicara atau temanmu.

2. Carilah kenalan sebanyak-banyaknya, suatu saat kenalan itu akan bisa menjadi
    sebuah relasi yang tidak bisa dengan mudah didapatkan di media sosial. 

3. Jangan terlalu sibuk, adalah kesalahan jika kalian meraup semua kegiatan yang
    menonjol di kampus. Tetapi jangan salah bahwa kuliah dan lulus adalah fokus
    utamamu. Cari yang sekiranya sesuai dan teruskan jika sudah jatuh cinta.

4. Jangan terlalu percaya omongan orang, kita boleh merekrut atau berteman dengan
    siapapun tapi kita tidak boleh terlalu mempercayainya. Manusia punya kelemahan,
    selain nafsu yang tidak bisa dikendalikan ada sifat iri dengki yang oleh karenanya
         tidak boleh meletakkan kepercayaan 100% kepada seseorang.

2. Bekerja sambil kuliah bukanlah hal yang berat
         
Tugas kuliah, kegiatan non-akademik di kampus dan kerja merupakan paduan yang wajar. Konsekuensi kuliah adalah tugasnya dan untuk menunjang softskill kegiatan non-akademik dibutuhkan. Poin yang paling besar didapat ketika kita juga bekerja. Poin disiplin, softskill, gaji dan relasi adalah hal yang patut dikejar. Namun, sekali lagi jika memang dikira sudah cukup keuangannya kerja bukanlah prioritas saat ini. Buat yang butuh tambahan uang saku, jangan takut untuk mencoba kerja. Sesuaikan saja dengan kemampuanmu karena sekarang banyak kerja paruh waktu untuk mahasiswa. Jangan lupa meminta izin orangtua dan pandai-pandailah mengatur waktu. Buanglah kegiatan non-akademik yang sekiranya tidak begitu penting atau tidak sesuai dengan yang kamu harapkan.

     3. Bertemanlah dengan jurusan lain

    Setelah ospek kampus usai, maka akan sulit untuk berbincang dengan teman dari jurusan lain. Oleh karena itu manfaatkan kesempatan untuk mencari teman dari jurusan lain lewat teman yang  sudah diajak kenalan ketika ospek kampus. Suatu hari akan ada manfaat yang tidak kamu sangka. Mata kuliah yang berbeda membawa cara berpikir yang berbeda pula. Oleh karena itulah akan banyak pelajaran yang bisa didapat dari teman jurusan lain.

     4.    Bergabunglah dengan forum daerah asalmu

Memang bukan termasuk organisasi kampus yang bisa menghasilkan sertifikat untuk menunjang kelulusan. Tapi bergabung dengan forum daerah atau yang lebih dikenal dengan forda akan membuatmu selalu ingat kampung halaman. Selera lidah yang sama, arah pulang yang sama serta beberapa kesamaan lainnya akan menjadikanmu ingat dengan kampung halaman. Seolah merekalah tempat kita “pulang” di perantauan.

Setelah resmi menjadi mahasiswa kamu harus segera memutuskan jadi seperti apa dirimu di dunia perkuliahan. Mahasiswa yang unggul di akademik, mahasiswa yang punya bisnis, atau mahasiswa yang multiperan. Selamat menentukan dan selamat berjuang meraih impian. Hidup Mahasiswa!